Tragedi Pondok Runtuh: BPBD Ungkap Fakta Baru di Balik Kematian Lima Santri Sampang

Editor MCN
9 Okt 2025 19:42
2 menit membaca

MCN | Sampang, Jawa Timur — Duka mendalam kembali menyelimuti Kabupaten Sampang, Madura. Kabar pilu datang dari Sidoarjo, Jawa Timur, setelah jumlah korban meninggal dunia akibat ambruknya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Kecamatan Buduran bertambah menjadi lima orang. Seluruh korban merupakan santri asal Kabupaten Sampang yang menimba ilmu di pondok tersebut.

Kabar duka ini dikonfirmasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sampang. Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Sampang, Mohammad Hozin, menyampaikan bahwa dua santri tambahan dinyatakan meninggal dunia setelah sebelumnya dilaporkan tiga korban tewas.

“Data terbaru yang kami terima menyebutkan total lima santri asal Sampang meninggal dunia. Tim kami terus melakukan koordinasi untuk penanganan korban,” ujar Hozin, Kamis, 09/10/2025.

Menurutnya, tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Sampang bekerja sama dengan BPBD Provinsi Jawa Timur terus memantau proses evakuasi dan pemulangan jenazah. Mereka memastikan setiap tahapan berjalan lancar dan penuh penghormatan bagi para korban.

“Kami pastikan seluruh jenazah dipulangkan ke kampung halaman masing-masing dengan pengawalan penuh,” tambahnya.

Salah satu korban terbaru bernama Syafiuddin, remaja 15 tahun asal Dusun Burnih Oloh, Desa Pajeruan, Kecamatan Kedungdung, Sampang. Jenazahnya berhasil dipulangkan dari RS Bhayangkara Surabaya pada Selasa malam dan disambut tangis keluarga serta warga desa.

“Kami semua berduka. Syafiuddin anak yang rajin, sopan, dan punya cita-cita besar,” tutur H. Munir, tokoh masyarakat setempat dengan suara bergetar.

Pemulangan jenazah dilakukan melalui jalur darat dengan pendampingan petugas BPBD Sampang, BPBD Provinsi Jawa Timur, serta Forkopimcam Kedungdung. Rombongan pengantar disambut oleh ratusan warga yang memadati jalan desa sebagai bentuk solidaritas dan penghormatan terakhir bagi para korban.

Tragedi ambruknya pondok pesantren tersebut kini menjadi sorotan berbagai pihak. Banyak yang menyoroti aspek keamanan dan kelayakan bangunan pendidikan berasrama.

“Pemerintah perlu segera melakukan audit struktur bangunan pondok-pondok pesantren di seluruh Jawa Timur agar tragedi seperti ini tidak terulang,” kata aktivis sosial asal Madura, Ahmad Fauzi.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Sampang berencana memberikan santunan kepada keluarga korban. Bupati Sampang, H. Slamet Junaidi, menyampaikan belasungkawa mendalam dan menginstruksikan dinas terkait untuk memberikan pendampingan psikologis bagi keluarga santri yang ditinggalkan.

“Kami turut berduka dan akan memastikan keluarga korban mendapatkan perhatian penuh,” tegasnya.

Kini suasana duka masih menyelimuti Desa Pajeruan dan beberapa kampung lain di Sampang. Isak tangis keluarga, teman, dan guru korban menjadi saksi betapa besar kehilangan yang dirasakan masyarakat. Tragedi ini menjadi pengingat pahit tentang pentingnya keselamatan lingkungan belajar bagi para santri yang menimba ilmu di pondok pesantren.(M.A).