Caption Foto:
Garam rakyat di salah satu sentra produksi di Kabupaten Sampang.MCN | Sampang, Jawa Timur – Sebanyak 35.300 ton garam rakyat masih tersimpan di gudang-gudang petambak di Kabupaten Sampang, Madura. Ribuan ton garam tersebut belum dilepas ke pasar karena mayoritas petambak memilih menunggu kenaikan harga. Kondisi ini menjadi gambaran bahwa meski produksi garam tahun ini menurun akibat cuaca, harga yang berlaku dinilai belum mampu memberikan keuntungan yang layak bagi para petambak.
Berdasarkan data Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Sampang, stok garam tersebut terdiri atas 32.703 ton garam kualitas KW 1, 1.947 ton KW 2, dan 650 ton KW 3. Jumlah stok terbesar berada di Kecamatan Sreseh sebanyak 18.430 ton, disusul Pangarengan 8.940 ton, Sampang 7.290 ton, dan Jrengik 640 ton. Empat kecamatan tersebut menjadi sentra utama produksi garam rakyat di Kabupaten Sampang.
Kepala Bidang Perikanan dan Budidaya Diskan Sampang, Moh. Mahfud, menjelaskan bahwa petambak sengaja belum menjual hasil panennya karena berharap harga garam terus mengalami kenaikan. Menurutnya, keputusan tersebut merupakan langkah petambak untuk memperoleh nilai jual yang lebih menguntungkan setelah menghadapi musim produksi yang tidak maksimal.
“Saat ini para petambak masih menahan garamnya dengan harapan harga bisa naik lebih mahal,” ujar Moh. Mahfud, Senin. 13/07/2026.
Mahfud mengungkapkan, musim kemarau tahun ini berlangsung relatif singkat dan masih diselingi hujan. Kondisi cuaca tersebut berdampak langsung terhadap proses kristalisasi garam sehingga produksi mengalami penurunan. Hingga pertengahan musim panen, produksi garam rakyat di Kabupaten Sampang baru mencapai 6.492 ton dari total lahan garam seluas 3.218,24 hektare yang tersebar di tujuh kecamatan penghasil.
Sementara itu, harga garam rakyat saat ini tercatat berada pada kisaran Rp1.350.000 per ton untuk KW 1, Rp1.250.000 per ton untuk KW 2, dan Rp1.150.000 per ton untuk KW 3. Meski harga tersebut dinilai lebih baik dibanding beberapa periode sebelumnya, sebagian besar petambak masih berharap adanya peningkatan agar mampu menutup biaya produksi dan memberikan keuntungan yang lebih layak.
Fenomena penahanan stok garam oleh petambak menjadi indikator bahwa persoalan sektor pergaraman tidak hanya bergantung pada hasil produksi, tetapi juga dipengaruhi stabilitas harga dan mekanisme pasar. Apabila harga tidak bergerak naik dalam waktu lama, dikhawatirkan daya beli petambak serta perputaran ekonomi di kawasan sentra garam akan ikut terdampak.
Mahfud berharap harga garam rakyat terus mengalami peningkatan sehingga kesejahteraan petambak dapat membaik. “Kami berharap agar ke depannya harga garam rakyat naik. Petambak bisa menjual garamnya lebih layak dan mahal,” pungkasnya.(M.A).